Selasa, 14 Mei 2013

krisis identitas nasional

Saat ini, identitas bangsa kita semakin kabur, tidak jelas. Bangsa Indonesia yang seharusnya mempunyai ciri khas dan jatidiri sendiri, semakin lama semakin terkikis. Rakyat Indonesia seakan tidak bangga menjadi warga negara Indonesia dan mungkin menyesal kenapa dilahirkan di Indonesia. Mungkin untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya pun, bangsa ini malu dan enggan karena sudah tidak paham lagi apa makna dibalik lirik lagu kebangsaan tersebut. Kemudian (yang paling jelas kelihatan), segala hal yang berbau luar negeri langsung membuat bangsa ini terkesima, seakan-akan semua yang berbau luar negeri itu bagus dan kualitasnya lebih tinggi dari buatan dalam negeri. Inilah yang membuat negara ini semakin krisis identitas, karena bangsanya sendiri lebih suka menjadikan “hal-hal luar negeri” itu sebagai identitasnya sehari-hari. Dalam pemakaian produk-produk misalnya, bangsa ini pasti akan lebih senang kalau produk yang digunakannya berlabel merek luar negeri. Semua produk buatan dalam negeri dianggap sampah dan tidak bermutu. Akibatnya, ajakan untuk mencintai produk dalam negeri seperti yang digembar-gemborkan selama ini menjadi sia-sia. Jadi tidak heran kalau negeri ini menjadi serbuan invasi produk-produk asing/impor karena memang rakyatnya lebih menyukai produk-produk asing/impor daripada produk buatan dalam negeri. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ketertarikan bangsa ini terhadap produk-produk luar negeri juga diakibatkan karena belum memadainya kualitas produk-produk yang dihasilkan oleh industri dalam negeri. Namun, bukan berarti hal itu lantas membuat kita men-judge bahwa dan men-generalisasikan bahwa semua produk buatan dalam negeri adalah sampah. Kita perlu memberi kesempatan kepada industri-industri dalam negeri agar menghasilkan produk-produk yang lebih berkualitas dan tidak kalah dengan produk-produk luar negeri sehingga lama-kelamaan akan mengubah mindset kita bahwa tidak selamanya produk buatan dalam negeri itu buruk.
Krisis Indonesia yang dimulai sebagai krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997 dan yang kemudian ditangani dengan kurang meyakinkan kepada pasar, berkembang menjadi krisis ekonomi, dan kemudian krisis kepercayaan kepada pemerintah dan negara. Krisis moneter telah mendatangkan keguncangan nasional namun pula telah menyadarkan kita bahwa krisis tersebut adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks dari sekedar yang tampak pada permukaanya sebagai suatu krisis ekonomi belaka. Krisis ini bersumber pada 2 hal, hal yang pertama sudah tentu pasti adalah masalah ekonomi negara yang terlihat dari melemahnya nilai mata uang Indonesia di kancah dunia. Faktor penyebab yang kedua ini tidak dapat dijelaskan dengan sekedar teori ekonomi belaka, melainkan faktor penyebabnya adalah diluar bidang ekonomi.
MEDAN (27 Maret 2012) - Eskalasi aksi unjuk rasa menentang kenaikan hargabahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meningkat di berbagai daerah. Di Medan,Sumatera Utara, ribuan massa kemarin memblokade akses jalan ke Bandara Polonia hingga lumpuh total. Massa yang meliputi buruh,petani, dan mahasiswa itu berkumpul didepan gerbang utama Bandara Polonia sejak pukul 15.00 WIB. Akibatnya, lalu lintas penumpang yang hendak berangkat ataupun baru tiba dibandara itu terhambat. Bentrokan tidak terhindarkan ketika polisi berupaya menghalau massa yang berupaya masuk area bandara. Kerusuhan pecah karena pengunjuk rasa tidak juga menghentikan pelemparan ke arah petugas, meskipun berulang kali diimbau. Massa akhirnya mengamuk dan merusak kawat berduri yang dipasang di pagar serta kacabandara. Ratusan petugas yang terdiri atas Polri, TNI Angkatan Darat (AD), dan TNIAngkatan Laut (AL) membalas dengan tembakan peringatan dan menembakkan gas airmata ke arah pendemo. Massa meminta Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumut Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Wisjnu Amat Sastro dan Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho hadir saat itu juga. Bila tidak, mereka akan bertindak anarki dan memblokade Bandara Polonia. Keduanya datang ke lokasi sekitar pukul 15.30 WIB. Suasana bandara baru normal kembali sekitar pukul 17.00 setelah massa berangsur-angsur meninggalkan lokasi. General Manager (GM) PT Angkasa Pura (AP) II Bandara Internasional Polonia Medan Kolonel(Pnb) Bram Bharoto Tjiptadi memastikan tidak ada maskapai penerbangan yang gagal berangkat karena aksi unjuk rasa. Namun, dia mengakui beberapa maskapai sajamengalami penundaan terbang lantaran penumpang terlambat akibat akses masuk ditutup pengunjuk rasa.
“Semuanya berangkat walaupun tidak sesuai jadwal karena penumpang telat
sampai ke bandara. Itu pun sudah saya perintahkan maskapai untuk membantu penumpangyang
terlambat untuk berangkat ke flight berikutnya,” katanya di Medan,kemarin.
Berdasarkan contoh kasus diatas, hal yang menyebabkan kerusuhan tersebut terjadi karena ketidak puasan rakyat akibat kenaikan BBM. Mereka tidak puas atas janji-janji yang diberikan pada saat kampanye pemilihan umun yang telah dilalui tiga tahun yang lalu. Karena janji yang tidak terpenuhi tersebut muncul rasa ketidak percayaan terhadappemerintah yang mengakumulasi sehingga muncul beberapa unjuk rasa di berbagai wilayah. Unjuk rasa tersebut terjadi di beberapa tempat publik seperti contoh kasus diatasyaitu di bandara dan berakhir pada bentrokan. Disebutkan diatas bahwa kegiatan di bandara tersebut lumpuh total. Bentrokan dibandara seperti kasus diatas menyebabkan terganggunya akses publik yang merugikan orang banyak. Sebagai contoh, banyak orang yang akan bepergian ke luar daerah dan salahsatunya ada yang sangat penting akan kedatangannnya di luar kota tersebut mengakibatkan orang tersebut tidak bisa datang ataupun tertunda kedatangannnya. Sikap yang ditunjukkan pada kasus diatas adalah masyarakat Indonesia saat initerlihat tidak mencirikan sebagai masyarakat yang memiliki jiwa Pancasila di dalam hatinya. Buktinya, mereka mengganggu bahkan samapai merusak fasilitas publik yangmerupakan termpat yang seharusnya tidak terganggu karena memiliki kepentingan yangmenyangkut hajat orang banyak. Jika ingin berunjuk rasa, sebaiknya jangan sampaimenutup akses bahkan sampai merusak fasilitas-fasilitas umum.
Mengembalikan jati diri bangsa dan Krisis identitas nasional, salah satu alasannya adalah hasil dari budaya manajemen yang lemah. Hal ini diperkuat oleh apresiasi rendah pelaku budaya, seniman dan penegakan hukum masih lemah. Masalah demokratisasi, liberalisasi, HAM, tekanan ekonomi, dan mudah dihapus artefak dan sumber-sumber budaya lain dokumen, juga mempengaruhi krisis identitas nasional .. Masalah dalam mempertahankan budaya nasional harus mempertimbangkan pemerintah, kemudian Mengembalikan jati diri dan identitas yang dikenal sebagai keragaman seni dan budaya di negara ini. Permaslahan ini, pemerintah harus membuat peraturan untuk mendukung pemberdayaan budaya lokal dan penghargaan bagi pelaku seni dan budaya. Diharapkan pemerintah sebelum melakukan berbagai program budaya dari berbagai pembangunan, seperti program-program utama, yakni pelaksanaan dialog terbuka, pengembangan pendidikan multikultural, perawatan dan pembangunan tempat-tempat umum, peningkatan penegakan hukum dan penciptaan cara yang berbeda ikatan kebangsaan mengembalikan jati diri bangsa
Program-program pembangunan dalam nilai-nilai budaya akan memulihkan dan membangun identitas nasional kebudayaan nasional. Ini diikuti dengan upaya untuk memperkuat kegiatan program ketahanan budaya nasional, memfasilitasi proses dan adaptasi budaya asing yang positif dan produktif dan bimbingan moral. Demikian juga, program pengembangan dan pelestarian kekayaan budaya nasional, antara lain, metode kuno melestarikan perbaikan, menulis, pengembangan sistem informasi dan data base bidang kebudayaan. Semuanya dibuat untuk banyak budaya di negara ini dikenal dan dipelihara, karena rakyat Indonesia untuk tidak ‘ketinggalan’ pengakuan aset budaya negara-negara lain. Cara untuk mengembalikan jati diri bangsa harus benar oleh pemerintah disadri program-program ini.
Apa yang dilakukan pemerintah, peningkatan sumber daya manusia, peningkatan kapasitas kelembagaan dan sistem data untuk pemerintahan yang baik bagi kehidupan budaya, meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan budaya dan lainnya -organisasi pemerintah dalam mengelola kekayaan budaya, dan pelestarian sejarah tersedia di negara ini.
Dengan mengidentifikasi dan pemeliharaan kebudayaan dan kebijaksanaan, maka negara ini dapt mewujudkan cita-cita mulia negeri, dan juga untuk mengembalikan identitas nasional dan identitas nasional


Sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/05/bangsa-indonesia-semakin-krisis-identitas-427519.html/ diakses pada tanggal 4 mei 2013
http://groups.yahoo.com/group/junge_denkers/message/104/ diakses pada tanggal 14 mei 2013
http://www.scribd.com/doc/93106385/Lunturnya-Kekuatan-Pancasila-Sebagai-Identitas-Nasional / diakses pada tanggal 14 mi 2013
http://mitta.blogdetik.com/2009/09/06/mengembalikan-jati-diri-bangsa-dan-krisis-identitas-nasional/ diakses pada tanggal 14 mei 2013


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar